Ternyata : Pelaut Indonesia (memang) Penakluk Dunia

Juli 15, 2011

Lagu “Nenek moyangku orang pelaut…” mungkin masih terngiang di telinga anda. Lagu itu mengingatkan kita bahwa bangsa kita adalah bangsa penjelajah yang terkenal, yang jangkauannya sampai ke Afrika, walau hanya menggunakan kapal sederhana.

Hampir semua tulisan sejarah peradaban dunia menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan pinggiran, identitas kelas dua atau kelas tiga di kancah internasional, juga dalam tatanan sosial, politik, ekonomi antar bangsa. Padahal, Asia Tenggara justeru dinilai sebagai cikal bakal peradaban kuno.

Demikian diungkapkan pakar geologi lingkungan Ir. Oki Oktariadi saat memaparkan topik “Peradaban Nusantara yang Ditemukan di Dunia” pada diskusi Pengaruh Peradaban Nusantara di Dunia, 23 Oktober 2010 di Libra Room, Executive Club, Hotel Sultan, Jakarta. Oki membahas gambaran umum peradaban-peradaban Nusantara yang ada di dunia.

Menurut dia, tidak bisa disalahkan jika banyak pendapat mengatakan bahwa perkembangan kebudayaan nusantara subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak difusi budaya dari pusat peradaban lain berpusat di Mesir, Cina dan India.

Padahal, kata dia, berdasarkan makalah tersebut, dokter ahli genetik Stephen Oppenheimer (2004) yang belajar tentang sejarah peradaban melihat, bahwa Asia Tenggara justeru merupakan cikal bakal peradaban kuno.

Ketua Yayasan Nuswantara Bakti Pontjo Sutowo mengatakan, penetapan topik bahasan dalam diskusi kali ini berlatar belakang tulisan Robert Dick Read yang diterbitkan Mizan pada 2008, yaitu “Penjelajah Bahari, Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika” (The Phantom Voyagers. Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times).

Pontjo mengatakan, kajian Read memaparkan banyak bukti arkeologis baru yang menyatakan bahwa para pelaut Nusantara telah menaklukkan begitu banyak samudra, jauh sebelum bangsa Eropa, Arab, dan Cina. Bahkan, kata Pontjo, diduga pada abad ke-5 dan ke-7, para pedagang Cina begitu tergantung pada jasa pelaut Nusantara.

Di samping tingkat kejeniusan dalam membuat perahu yang kokoh, lanjut dia, pelaut-pelaut asal Austronesia atau Indo-polinesia ini begitu disegani lantaran penjelajahannya yang jauh mengarungi lautan luas.

Halaman awal buku Read itu sendiri dimulai dengan penjelasan secara kronologis tentang kedatangan Ras Mongol berbahasa Austronesia ke Kepulauan Indonesia menggunakan kano-kano dari Formosa, Taiwan, sekitar 3000 SM.

Mereka kemudian melakukan upaya kawin mawin dengan Ras Australo-Melanesia, 60.000 tahun lampau, yang juga pernah menyeberangi lautan menuju Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Bismarck.

Ras Austronesia itulah, yang menurut Read, kemudian menimbulkan budaya baru, yang dikenal sebagai orang-orang Lapita yang memproduksi tembikar dan obsidian atau mata panah.

Menariknya, buku Read juga menjelaskan tentang kisah pelaut-pelaut Kepulauan Indonesia di pusat-pusat-pusat peradaban dunia. Pelaut Indonesia diindikasikan pernah menempati India Selatan pada era pra-Dravida, akhir 500 SM. Mereka berlayar menggunakan kano-kano bercadik satu.

Dicatat oleh Read, para pelaut Nusantara itu disebut sebagai Ras Naga oleh Etnik Tamil. Dalam perjalanan waktu, kano bercadik tersebut kemudian terserap dalam kebudayaan Tamil, lantaran hipotesis mayoritas ilmuwan abad-19 yang meyakini, bahwa bangsa India bukanlah bangsa pelaut. Dengan kata lain, kano milik pelaut Indonesia direplikasi menjadi model kano umum di India.

SABANG TEMPOE DOELOE

Mei 30, 2007

SABANG TEMPOE DOELOE

Rahasia 90 Tahun Cagar Alam Sibolangit

Februari 28, 2007

Cagar Alam Sibolangit merupakan salah satu kawasan konservasi tertua di Indonesia. Layak dikunjungi dan jaraknya hanya 36 km dari Kota Medan.

Oleh Andi Siswanda*)

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati dan hewani terbesar di dunia.
Sebagai wujud usaha pelestarian fauna dan flora dan pelestarian sumber daya alam yang ada di dalamnya, dilakukan berbagai usaha pengawetan (konservasi) alam baik dalam bentuk hutan lindung, taman nasional, cagar alam, suaka marga satwa dan lain-lain sesuai dengan fungsinya.

Salah satu kawasan konservasi yang tertua yang ada di Indonesia adalah Cagar Alam Sibolangit yang hanya berjarak 38 km dari kota Medan dan dapat ditempuh sekitar satu jam dengan menggunakan kendaraan umum. Jaraknya yang begitu dekat dengan perkotaan menjadikan kawasan konservasi ini relatif terancam dengan aktivitas manusia. Namun diusianya yang ke-90 saat ini, kawasan Cagar Alam Sibolangit masih terpelihara dengan baik, kalau tidak mau dikatakan lebih baik. Lokasi Cagar Alam Sibolangit terletak diantara Jalan Medan-Brastagi, secara administrasi terletak di Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Daerah ini terletak pada ketinggian antara 246-515 meter dari permukaan laut (mdpl). Bila ditinjau secara geogarfis, kawasan Cagar Alam Sibolangit terletak diantara 30 17′ 50″-3: 18′ 39″ LU dan 98: 36′ 0″-98: 36’36″ BT.

Cagar Alam atau Kebun Raya Sibolangit didirikan pada tahun 1914 oleh Tn J A Lorzing, seorang warga negara Belanda keturunan Jerman, namun tidak ada yang tahu jelas tanggal pastinya. Pendirian Cagar Alam atau kebun Raya Sibolangit ini diprakarsai oleh Dr. J C Koningsberger yang saat itu juga menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Bogor.

Luas kawasan Kebun Raya Sibolangit saat itu seluas 127 ha, berdasarkan proses verbal Van Grensregeling tertanggal 8 Desember 1927 mengenai penentuan batas Filiaal dari ‘S Lands Plantentuin Sibolangit.

Sibolangit dibentuk berdasarkan Besluit dari Paduka Tuan Gourverneur dari Pesisir Timur Pulau Pertja tanggal 18 Nopember 1927 No.171/B/A.Z., di mana komisi ini terdiri dari 5 orang yaitu, J Deridder, Controleur dari Bovan-Deli, sebagai wakil dari Gourverment, J W Gonggrijp, Opperhoutvester dari Oostkust Van Sumatera c.a. sebagai wakil dari ‘S Lands Plantentuin. Datoek Hafisz Goembak, Datuk dari XII Kota, Beheng, Penghulu dari kampung Sibolangit, Pentji, Anak Beru dari Kampung Sibolangit.

Berdasarkan proses Verbal Van Grensregeling tersebut, batas-batas tanah untuk dari Lands plantentuin Sibolangit saat itu tercatat, sebelah Utara, Jalan batas dengan tanda batas nomor 48 sampai 32. Sebelah timur, Jalan batas dengan tanda batas nomor 32 sampai 20, Sebelah Selatan, satu garis dianggap ditarik dari tanda batas baru nomor 20 sekira menuju sebelah Barat sampai di Jalan dipinggir puncak yang rata dari Sibolangit dan seterusnya menurut jalan tersebut sampai di tanda batas nomor 7, kemudian menurut jalan batas dengan batas-batas batu nomor 7, 6 dan 5 sampai ditiang batas B O W dari sebuah sekolah, serta kemudian melalui jalan besar selalu tanda batas nomor 3 jalan curam sampai kembali pada jalan besar. Sebelah Barat, sepanjang jalan besar sampai di tanda batas nomor 48.

Pada tanggal 10 Maret 1938 kawasan Kebun Raya Sibolangit tersebut diubah statusnya menjadi Cagar Alam berdasarkan Zelfbestuur Besluit (Z.b.) No. 37/PK. Pada tahun 1956, Lokasi Cagar Alam (Kebun Raya) Sibolangit bertambah luasnya sebesar 5,85 ha yang berasal dari bekas areal Hak Guna Usaha CV Seng Hap yang tertuang dalam Peta Perluasan CA sibolangit tanggal 29 Juli 1959 oleh Brigade V Planologi Kehutanan Pematang Siantar. Kemudian dikuatkan dengan SKPT Menteri Pertanian dan Agraria No.104/KA/1957 tanggal 11 Juni 1957.

Pada tahun 1980, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 636/Kpts/Um/9/1980 sebagian kawasan Cagar Alam Sibolangit seluas 24,85 hektare bertambah 5,85 hektare berasal dari areal bekas Hak Guna Usaha CV Seng Hap kemudian dialihfungsikan menjadi kawasan Hutan Wisata Sibolangit c.q Taman Wisata Alam Sibolangit. Tanggal 5 Nopember 1980 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 363/kpts/Um/11/1980 yang menetapkan luas kawasan Cagar Alam Sibolangit menjadi 95,15 ha setelah dikurangi luasnya untuk Taman Wisata Alam. Demikian sehingga saat ini luas Cagar Alam/Taman Wisata Alam Sibolangit menjadi 120 hektare, terjadi pengurangan sebesar 7 hektae dari luas awalnya dan berlaku sampai sekarang yang digunakan untuk keperluan umum. Jelasnya luas tersebut dibagi atas Cagar Alam seluas 95,15 ha, Taman Wisata Alam seluas 24,85 ha yang merupakan jumlah dar19 ha Cagar Alam ditambah 5,85ha areal bekas Hak Guna Usaha CV. Seng Hap.

Menurut keterangan Kepala Resort Polisi Hutan (Polhut) Sibolangit, Tri Widodo S.Si, tanah TWA rata-rata termasuk jenis Andosol dan asosiasi Andosol dengan podsolik merah kuning yang tertutup oleh humus tebal sehingga memudahkan air untuk meresap kedalamnya. Bahan induk tanah ini berasal dari letusan gunung berapi berupa tuff intermeier. kondisi tanah bersifat asam dengan pH antara 4,5 sampai 5,6.

Fungsi Kawasan

CA/TWA Sibolangit sebagai kawasan konservasi memiliki fungsi penting, diantaranya adalah perlindungan sistem penyangga kehidupan, yaitu menjaga keseimbangan lingkungan hidup, mengatur tata air, iklim mikro. “Kawasan ini juga menjaga kesuburan tanah, sebagai daerah resapan air hujan, mencegah banjir dan menjadi sumber air bagi daerah sekitarnya sampai kota Medan,” tutur Tri Widodo.

Selanjutnya, kata Tri Widodo, kawasan ini berfungsi pula sebagai tempat pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dan ekosistemnya, yaitu penyedia sumber plasma nutfah yang potensinya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia.

Hal senada juga disampaikan staf Pendidikan Conservation International Indonesia (CII) yang saat ini bermitra dengan BKSDA TK I Sumatera Utara dalam mengelola kawasan CA/TWA, Kiky Murdiatmoko. Menurut Kiky pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dimana CA/TWA Sibolangit menunjang berbagai kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan, sebagai suatu laboraturium terbuka/lapangan.

Cagar Alam Sibolangit memiliki keindahan alam dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang ada yang berpotensi untuk menjadi tempat rekreasi. Potensi ekosistem dari kawasan Sibolangit yaitu merupakan kawasan hutan hujan trpois di mana dari sejarah pembentukannya sebagai kawasan ekosistem buatan hasil dari penanaman pohon pada awal abad 20 (tahun 1914)sejak Kebun Raya Sibolangit ini dirintis, tambah Tri. Sebab, Sibolangit secara konservasi ekosistem alam yang asli relatif kecil, namun keanekaragaman yang tinggi sudah cukup baik untuk menggambarkan kehidupan tipe hutan tropis sebagai sumber daya untuk pendidikan dan penelitian dalam bidang lingkungan dan konservasi alam.

Sementara itu, CA/TWA Sibolangit memiliki potensi flora atau tumbuhan yang hidup di kawasan ini sebagaian merupakan jenis asli. Tapi ada juga sebagian berasal dari daerah lain sebagai hasil penanaman oleh Tn Lorzing.

Tanaman yang bukan asli daerah ini misalnya, Sono Kembang (Dlabergia Latifolia), Angsana (Pterococarpus Indicus) dan Kelenjar (Samanea saman).

Berdasarkan catatan Tn. Lorzing Jenis tanaman asli di CA/TWA Sibolangit antara tahun 1914-1924 meliputi, Meranti (Shorea sp), 30 spesies ficus, 20 jenis Kecing (Quercus sp), Kenanga, Kulit manis, Manggis dan Artocapus sp.

Tumbuhan semak yang ada diantaranya Philodendron sp yang merupakan anggota dari genus Anthurium famili Araceae. Keberadaan tumbuhan ini menunjukkan bahwa daerah ini memiliki curah hujan yang cukup tinggi sekitar 3.000-4.000 mm/tahun.

Tumbuhan semak (Grandcover) lainnya diantaranya adalah berbagai jenis paku-pakuan, talas hutan, rumput, serta berbagai jenis jamur. Selain itu tumbuhan lain yang dapat ditemui diantaranya berbagai jenis anggrek hutan, plama dan pinang.

Dalam kawasan ini juga ditemui adanya berbagai jenis tanaman obat-obatan dan tanaman hias yang potensial, data terakhir tahun 2000 menunjukkan ada terdapat sekira 89 jenis dari 44 famili tanaman obat-obatan dan 55 jenis dari 22 famili tanaman hias.

*) Andi Siswanda adalah Relawan Konservasi untuk Pendidikan Konservasi Alam Sibolangit, tinggal di Medan.

*) Tulisan ini dimuat di Majalah Tropika yang di kelola oleh Conservation International Indonesia (CII)

Ruang Rimba

Februari 23, 2007

Nah… ini dia..

Selamat datang di blog andiwana, silahkan menelusuri isi di dalamnya.

Saya harap jangan terlalu percaya dengan isi yang ada di dalamnya karena tidak semuanya benar. Namun kalau ada informasi yang berguna, silahkan diambil dan dimanfaatkan.

So.. selamat menikmati dunia maya..

Thanks karena sudah kunjungi web blog saya.

Andi